Minggu, 09 Oktober 2011
Di balik ceria
Angin itu berhembus perlahan menelisik helai rambut...
SAat mata saling memandang dengan langit
beribu pertanyaan mulai nampak berhamburan
di layar mataku
Aku diam
Tak mampu berkata
kala aku tersesat dengan waktu
kala aku bingung dengan arti sebuah cahaya di malam hari
saat hujan kembali ada
saat siang kembali kelabu
saat itu tanya terus menjadi gambaran hati
SAat mata saling memandang dengan langit
beribu pertanyaan mulai nampak berhamburan
di layar mataku
Aku diam
Tak mampu berkata
kala aku tersesat dengan waktu
kala aku bingung dengan arti sebuah cahaya di malam hari
saat hujan kembali ada
saat siang kembali kelabu
saat itu tanya terus menjadi gambaran hati
7 oktober 2011 catatan hidup kelam
Mendung langit nampak terhampar
Selayang pandang meresapi keadaan
termenung menatap kisah bayangan dilema
Seketika mata terhenti menatap
Di balik jendela kulihat hujan
Menatapnya batinku meringis
meronta
Hujan ibarat batinku
Hujan itu gambaran hatiku
Hujan itu
Adalah
Isi hatiku
Selayang pandang meresapi keadaan
termenung menatap kisah bayangan dilema
Seketika mata terhenti menatap
Di balik jendela kulihat hujan
Menatapnya batinku meringis
meronta
Hujan ibarat batinku
Hujan itu gambaran hatiku
Hujan itu
Adalah
Isi hatiku
Sebuah Kebutuhan
Air itu tenang
Air adalah inti kehidupan
Namun...
Airpun tak selalu di pandang indah
Air
Banyak manusia menyalahgunakan air
Air
Banyak orang mengacuhkannya
Mungkinkah air hanya jadi pelengkap hidup dan
bukan lagi menjadi inti kehidupan
Selasa, 04 Oktober 2011
Secerah Bayangan Pagi
Ketika mereka bertanya
Tentang apa yang mendasari sebuah kebahagiaan untukku
Aku hanya tersenyum menatapnya
Aku yang terlalu berlebih
Aku yang terlalu mengharap
Bersama
Dengannya
Hingga segala kehidupan ku berakhir
Nafas ku
Tak mampu mencerahkan cerianya di pagi ini
Terkadang ketika bimbang menerkam jemari hati
Aku merasa guna diri hilang menjauhi
Aku selalu mengharapkan
Dirinya kembali dalam cerah pagi
Meski itu hanya bayangan
Dan bukan karena ku
Tapi kuharapkan dia selalu ada dalam cerahnya Pagi
Tu me manques
Mon Cher
Inilah kisah dalam dilema
Semua menganggap ini biasa
Semua menganggap ini tak istimewa
Tapi bagiku inilah yang paling teristimewa
Perlahan ku jauhi
Namun inilah yang kusukai
Aku tak bisa membohongi hati
Inilah suara parau dalam hati
Mendengar seru suaranya
Rasanya batinku tersayat
Melihat Keindahannya
Batinku tak kuasa ingin menangis
Aku gila dengan dilema hidupku
Aku gila karena segala yang kusukai
Aku menjauhi ,
Namun Batin tersakiti
Melebihi dari apapun rasa cinta yang ada
Aku harapkan mimpiku
harapku
di dunia yang akan datang
mengabulkan segala yang sulit menjadi mudah
segala yang jauh menjadi dekat
segala khayal menjadi nyata
Aku gila karena mu ........ lantunan indahh
langit perlahan bersua
Dimanakah suara itu menderu
Lantunannya semakin bersua
Ingin rasanya merangkul kisahnya
Yang terlantun seperti sandiwara
Perlahan langkah terlampaui
perlahan nadi mengaliri
Detak nafas yang tertanam
Tak terluapkan
Aku rindukan aroma daun berguguran
Bertebaran diatas kepalaku
aku termenung menatapnya
menatap daun berguguran
Aku rangkul angin di sore hari
Sang merpati duduk tertawa
Menatap manusia yang termenung
Di balik jendela penantian
Jumat, 30 September 2011
the reality of life
berlarut pengharapan menjelma dalam pikiran..
aku termenung memaku setiap jemari kugerak
tiada sepenggal harapan kutemui di semak belukar ...
terdiam kembali aku melayang.....
seraya suara bisik itu kembali menekan emosi
segala kenyataan yang kucoba jauhi
tentang apa itu mimpi ..
tentang apa itu harapan....
kini aku bersandar di antara jemari awan yang menenggelamkan suasana
aku terdiam ... merasakan suasana yang kian mendalam...
betapa hanyut nya batinku ....
hanya sedetik aku menatap langit...
aku luapkan segala apa yang menjadi tanya ....
tak peduli apa kata orang tentang aku
tentang aku yang mereka katakan gila
tentang aku yang mereka katakan hina
kini masih kujalani bermain air bersama mimpi....
sampai kapan aku berlindung di balik sebuah nadi??
sampai kapan aku terdiam memaku menatap langit yang menaburkan bintangnya ??
meski jauh kuraih uluran tangan di atas langit ....
setinggi itu pula aku luapkan perjuangan
aku termenung memaku setiap jemari kugerak
tiada sepenggal harapan kutemui di semak belukar ...
terdiam kembali aku melayang.....
seraya suara bisik itu kembali menekan emosi
segala kenyataan yang kucoba jauhi
tentang apa itu mimpi ..
tentang apa itu harapan....
kini aku bersandar di antara jemari awan yang menenggelamkan suasana
aku terdiam ... merasakan suasana yang kian mendalam...
betapa hanyut nya batinku ....
hanya sedetik aku menatap langit...
aku luapkan segala apa yang menjadi tanya ....
tak peduli apa kata orang tentang aku
tentang aku yang mereka katakan gila
tentang aku yang mereka katakan hina
kini masih kujalani bermain air bersama mimpi....
sampai kapan aku berlindung di balik sebuah nadi??
sampai kapan aku terdiam memaku menatap langit yang menaburkan bintangnya ??
meski jauh kuraih uluran tangan di atas langit ....
setinggi itu pula aku luapkan perjuangan
Memori
Semilir angin menelisik perlahan helaian rambutku ..
Terhampar luas langit penuh awan itu tak berubah..
5 tahun berlalu cepat..
Masih teringat sosoknya berdiri dsamping q..
Bercerita keluh kesahnya saat itu..
"aku ingin mati saja" sontak aq mendengar ocehan seseorang dsampingku mengernyitkn dahi dan menoleh kearahku .. Sepertinya ia ingin aku menyetujui pendapatnya..
"hush! Jangan berbicara sembarangan! " nadaku agak sedikit membentak..
Wanita disampingku tak berkata lagi.. Sepertinya dy menikmati angin sore di teras kamarku..
Wajah nya seketika sumringah..
"aku ingin disini selamanya .. Boleh?"
pertanyaannya sedikit menggelitikku..
Aku tau situasi hatinya sedang kacau saat itu..
"boleh.. Kamu boleh pakai teras kamarku sepuasnya " nadaku terdengar kegirangan..
Wanita dsampingku tak bnyak bicara, ia terlalu menikmati udara sore itu.. Wajahnya sesekali tersenyum.. Dalam benakku sedikit bingung, tempo hari ada berita ia sakit tifus dan dia sempat dirawat.. Kini ia datang kerumah tiba-tiba hanya ingin silaturahmi saja.. Wanita itu datang sendiri kerumahku tanpa persetujuan neneknya..
"kamu enak.. Setiap hari bisa menikmati udara sore setenang ini di teras rumahmu" kata-katanya mulai melemah..
Aku tak membalas ocehannya.. Hanya tersenyum menatapnya dan sesekali menatap langit..
"aku rindu ibu dan ayahku.. Aku rindu ayahku yang sudah meninggal.. Aku rindu ibuku yang ada d bandung.. Aku ingin menyusul ayah.. " nada suaranya semakin melemah.. Air matanya mencoba membasahi wajahnya.. Melihatnya aku menjadi larut dalam kesedihan..
Dia mulai bercerita tentang bandung, kota yang paling ia ingin pijaki..
Baginya bandung adalah kota impian.. Selain bisa bertemu ibunya, bandung adalah kota terindah baginya.. Tak henti ia menceritakan bandung, tempat dimana ibunya berada.. Lain halnya dengan ku yang sangat menyukai kota metropolitan.. Sedikit heran aku mendengar wanita dsampingku bercerita tentang bandung, semakin menarik penasaranku..
"sudah jangan menangis, nanti kita kebandung bareng2"
Hening suasana sore itu.. Wanita itu rasanya sangat betah di teras kamarku.. Sesekali wanita itu memegangi kepalanya..
"kamu baik-baik saja?"tanyaku penuh khawatir..
"sedikit pusing saja " jawabnya pelan..
Wanita itu kembali menatap langit dan terdiam sejenak..
Diapun menceritakan masalah yang saat itu ia alami..
Tentang neneknya yg berlaku tidak adil..
Tentang saudaranya yang mencemooh..
Mendengarnya batinku pun ikut sakit
sesekali ia tersenyum..
"boleh aku menyendiri dsni? 30 menit saja " ucapnya dgn nada rendah
aku hanya mengangguk , dan tersenyum.. Ku tinggalkan ia sendiri di teras kamarku.. Sempat merasa bingung dengan sikap anehnya .. Namun tak trlalu panjang ku tela'ah..
* * * *
jam menunjukkan pukul 17.00 tepat 30 menit waktu berlalu dari percakapan ku dengan wanita itu..
Wanita itu turun dari kamarku menuruni tangga. Terlihat lebih ceria dari pertama ia datang..
"tante, aku sudah mau pulang. Sudah sore. Maaf kesini merepotkan?" nada wanita itu terdengar ceria..
"apa ,andin? Ngerepotin juga tidak, tante belikan bakso ya? Itu kan makanan favoritmu "jelas ibuku
"tante tau saja aku suka bakso, tapi tidak terima kasih , aku sedang puasa"jawaban itu sedikit mengagetkanku.. Dia sangat rajin melaksanakan puasa.. Aku takjub padanya
"aku pulang dulu tante "lirih suaranya terdengar lagi semakin ceria
wanita itu menepuk pundakku "jaga dirimu baik-baik " kata2nya terdengar mengagetkan.. "seperti mau pergi jauh saja "batinku berucap..
Aku pun mengangguk dan tersenyum
"iya, pasti. Kamu juga ya! Nanti kita kebandung bersama . Kerumah ibumu . " nadaku sedikit menggoda..
"kayaknya gak mungkin"jawabnya singkat
"kenapa?"
"pasti belum sempat."nadanya itu tak terdengar ceria lagi. Jelas aku bingung . Namun sepertinya dia tak ingin aku bertanya lagi . Dia segera mengenakan sandalnya dan melangkah menghilang dari pandanganku.. Sejenak aku terdiam.. Sosoknya terlihat aneh hari ini.. "semoga dia baik-baik saja" bisikku dalam batin..
Seminggu berlalu cepat.. Esok adalah ujian kenaikan kelas.
Aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP adalah siswi yang terbilang malas belajar. .
Namun untuk saat itu terpaksa aku berpura-pura belajar d depan orang tua ku.. Ketika sedang asyik membaca buku ,handphone ku tiba-tiba berdering "ah ternyata sms dari lestari sepupuku" sesegera mungkin aku membaca pesan itu
membaca isi pesan itu pundakku terasa berat, tanganku terasa lemah, pandanganku terasa semakin jauh..
Aku merunduk . Menahan tetesan air mata ..
"andiny meninggal dunia"
kata-kata itu menusuk batinku.. Belum sempat ia merasakan menjadi siswa yang lulus SMP, siswa SMA, mahasiswa, dan yang paling penting ia belum sempat berpijak dikota impiannya "bandung" . Lebam bahuku rasanya mendengar berita itu .. Sungguh aku merasa tak berdaya. .
* * * *
aku telah rapi mengganti pakaianku yang hendak datang ke pemakaman.
Jenazah andin tiba pkul 9 malam.
Namun tiba-tiba ibuku menghentikan langkahku. Aku tak diberi izin untuk hadir di pemakamannya.
Betapa kecewa nya aku mendengar larangan ibu..
Padahal aku bisa dengan leluasa memberi pukulan keras untuk orang-orang yang telah menyakiti andin .
Aku dengan leluasa menendang wajah mereka dari hadapanku.. Setelah beberapa saat berpikir, ibu memberi keputusan yang tepat.
Betapa menjijikannya jika aku melihat mereka orang-orang yang tak punya hati menangis air mata buaya .. Sungguh aku tak kan tahan ..
* * * *
hening malam itu.. Seisi rumah nampak sepi..
Kedua orang tuaku pergi kepemakaman.
Aku sendiri menerawang lamunanku..
Aku beranjak ke teras kamarku.. Setiba disana, bayang2 seminggu yang lalu masih terasa .. Kini suasana yang berbeda.. Malam dengan penuh bintang .
Tiga detik saja berdiri memandangi langit ,mampu merapuhkn hati dan membasahi wajahku dengan air mata.
"bolehkan aku berada disini selamanya?"kata-kata itu terus membayangi pikiranku..
Angin menambah heningnya suasana malam itu..
Termenung aku menatap langit yg membisu.. Sesekali aku mengusap air mata yang membasahi wajah..
"andin, aku tau kau sekarang berada disampingku,
aku dapat merasakan keberadaanmu..
Andin, betapa jahatnya kau meninggalkanku..
Kita belum sempat berpijak ke bandung! Kau benar-benar mendahuluiku! " suaraku yang sedikit berterik membuat serak .. Tak peduli apapun yang ada disekitar.. Aku hanya ingin menyepi ditempat favorit andin..
* * * *
dedaunan sore hari menambah sunyi.. Di atas nisan "andini julia" aku termangu..
Ku tabur bunga dan air untuknya..
Aku merunduk .. Menepak tanah..
"andin, aku disini. Maaf sahabat kecil aku barulah hadir dsini..
Aku bersyukur penderitaan mu didunia telah berakhir. Mimpi mu ingin bertemu ayah pun mungkin telah terwujud..
Andin, baik-baiklah kau disana, aku dsini selalu mendoakanmu " lirih suaraku yg serak berakhir.. Aku segera pergi dari pemakaman..
Dimalam yang sunyi, pkiran ku sedikit gelisah.. Aku bermimpi bertemu andin.
Ia sekarang memiliki kawan baru..
Ia lebih tertutup , cntik dengan jilbabnya.
Subhanalloh ia menunjukkan itu untuk memberitau ku, jika ia sekarang tengah hidup bahagia..
Quran ditangannya ia genggam erat-erat..
Subhanalloh pemandangan yang indah..
Dan aku pun terbangun dari mimpi dan tersenyum mengingat mimpi itu..
3 taun berlalu dengan cepat.. Disaat, aku berambisi ingin berada d kota metropolitan, justru takdir berbicara lain.. Kini aku berpijak di bandung.. Kota impian andin.. Subhanalloh.. Inilah rencana alloh untukku..
"andin , lihatlah aku disini.. Kini aku berpijak di bandung. Aku menimba ilmu di kota impianmu.. Benar apa katamu.. Kota ini sungguh indah.. Aku benar2 tak ingin beranjak dari pijakan ku ini.. Andien, semoga kau pun rasakan pijakan ku ini.. Tenanglah kau disana.. Hutang kita telah terbayar.. Terima kasih ya ALLOH" nadaku terdengar bahagia.. Dan kutinggalkan pijakanku menuju kampus tempat ku menimba ilmu..
End
Terhampar luas langit penuh awan itu tak berubah..
5 tahun berlalu cepat..
Masih teringat sosoknya berdiri dsamping q..
Bercerita keluh kesahnya saat itu..
"aku ingin mati saja" sontak aq mendengar ocehan seseorang dsampingku mengernyitkn dahi dan menoleh kearahku .. Sepertinya ia ingin aku menyetujui pendapatnya..
"hush! Jangan berbicara sembarangan! " nadaku agak sedikit membentak..
Wanita disampingku tak berkata lagi.. Sepertinya dy menikmati angin sore di teras kamarku..
Wajah nya seketika sumringah..
"aku ingin disini selamanya .. Boleh?"
pertanyaannya sedikit menggelitikku..
Aku tau situasi hatinya sedang kacau saat itu..
"boleh.. Kamu boleh pakai teras kamarku sepuasnya " nadaku terdengar kegirangan..
Wanita dsampingku tak bnyak bicara, ia terlalu menikmati udara sore itu.. Wajahnya sesekali tersenyum.. Dalam benakku sedikit bingung, tempo hari ada berita ia sakit tifus dan dia sempat dirawat.. Kini ia datang kerumah tiba-tiba hanya ingin silaturahmi saja.. Wanita itu datang sendiri kerumahku tanpa persetujuan neneknya..
"kamu enak.. Setiap hari bisa menikmati udara sore setenang ini di teras rumahmu" kata-katanya mulai melemah..
Aku tak membalas ocehannya.. Hanya tersenyum menatapnya dan sesekali menatap langit..
"aku rindu ibu dan ayahku.. Aku rindu ayahku yang sudah meninggal.. Aku rindu ibuku yang ada d bandung.. Aku ingin menyusul ayah.. " nada suaranya semakin melemah.. Air matanya mencoba membasahi wajahnya.. Melihatnya aku menjadi larut dalam kesedihan..
Dia mulai bercerita tentang bandung, kota yang paling ia ingin pijaki..
Baginya bandung adalah kota impian.. Selain bisa bertemu ibunya, bandung adalah kota terindah baginya.. Tak henti ia menceritakan bandung, tempat dimana ibunya berada.. Lain halnya dengan ku yang sangat menyukai kota metropolitan.. Sedikit heran aku mendengar wanita dsampingku bercerita tentang bandung, semakin menarik penasaranku..
"sudah jangan menangis, nanti kita kebandung bareng2"
Hening suasana sore itu.. Wanita itu rasanya sangat betah di teras kamarku.. Sesekali wanita itu memegangi kepalanya..
"kamu baik-baik saja?"tanyaku penuh khawatir..
"sedikit pusing saja " jawabnya pelan..
Wanita itu kembali menatap langit dan terdiam sejenak..
Diapun menceritakan masalah yang saat itu ia alami..
Tentang neneknya yg berlaku tidak adil..
Tentang saudaranya yang mencemooh..
Mendengarnya batinku pun ikut sakit
sesekali ia tersenyum..
"boleh aku menyendiri dsni? 30 menit saja " ucapnya dgn nada rendah
aku hanya mengangguk , dan tersenyum.. Ku tinggalkan ia sendiri di teras kamarku.. Sempat merasa bingung dengan sikap anehnya .. Namun tak trlalu panjang ku tela'ah..
* * * *
jam menunjukkan pukul 17.00 tepat 30 menit waktu berlalu dari percakapan ku dengan wanita itu..
Wanita itu turun dari kamarku menuruni tangga. Terlihat lebih ceria dari pertama ia datang..
"tante, aku sudah mau pulang. Sudah sore. Maaf kesini merepotkan?" nada wanita itu terdengar ceria..
"apa ,andin? Ngerepotin juga tidak, tante belikan bakso ya? Itu kan makanan favoritmu "jelas ibuku
"tante tau saja aku suka bakso, tapi tidak terima kasih , aku sedang puasa"jawaban itu sedikit mengagetkanku.. Dia sangat rajin melaksanakan puasa.. Aku takjub padanya
"aku pulang dulu tante "lirih suaranya terdengar lagi semakin ceria
wanita itu menepuk pundakku "jaga dirimu baik-baik " kata2nya terdengar mengagetkan.. "seperti mau pergi jauh saja "batinku berucap..
Aku pun mengangguk dan tersenyum
"iya, pasti. Kamu juga ya! Nanti kita kebandung bersama . Kerumah ibumu . " nadaku sedikit menggoda..
"kayaknya gak mungkin"jawabnya singkat
"kenapa?"
"pasti belum sempat."nadanya itu tak terdengar ceria lagi. Jelas aku bingung . Namun sepertinya dia tak ingin aku bertanya lagi . Dia segera mengenakan sandalnya dan melangkah menghilang dari pandanganku.. Sejenak aku terdiam.. Sosoknya terlihat aneh hari ini.. "semoga dia baik-baik saja" bisikku dalam batin..
Seminggu berlalu cepat.. Esok adalah ujian kenaikan kelas.
Aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP adalah siswi yang terbilang malas belajar. .
Namun untuk saat itu terpaksa aku berpura-pura belajar d depan orang tua ku.. Ketika sedang asyik membaca buku ,handphone ku tiba-tiba berdering "ah ternyata sms dari lestari sepupuku" sesegera mungkin aku membaca pesan itu
membaca isi pesan itu pundakku terasa berat, tanganku terasa lemah, pandanganku terasa semakin jauh..
Aku merunduk . Menahan tetesan air mata ..
"andiny meninggal dunia"
kata-kata itu menusuk batinku.. Belum sempat ia merasakan menjadi siswa yang lulus SMP, siswa SMA, mahasiswa, dan yang paling penting ia belum sempat berpijak dikota impiannya "bandung" . Lebam bahuku rasanya mendengar berita itu .. Sungguh aku merasa tak berdaya. .
* * * *
aku telah rapi mengganti pakaianku yang hendak datang ke pemakaman.
Jenazah andin tiba pkul 9 malam.
Namun tiba-tiba ibuku menghentikan langkahku. Aku tak diberi izin untuk hadir di pemakamannya.
Betapa kecewa nya aku mendengar larangan ibu..
Padahal aku bisa dengan leluasa memberi pukulan keras untuk orang-orang yang telah menyakiti andin .
Aku dengan leluasa menendang wajah mereka dari hadapanku.. Setelah beberapa saat berpikir, ibu memberi keputusan yang tepat.
Betapa menjijikannya jika aku melihat mereka orang-orang yang tak punya hati menangis air mata buaya .. Sungguh aku tak kan tahan ..
* * * *
hening malam itu.. Seisi rumah nampak sepi..
Kedua orang tuaku pergi kepemakaman.
Aku sendiri menerawang lamunanku..
Aku beranjak ke teras kamarku.. Setiba disana, bayang2 seminggu yang lalu masih terasa .. Kini suasana yang berbeda.. Malam dengan penuh bintang .
Tiga detik saja berdiri memandangi langit ,mampu merapuhkn hati dan membasahi wajahku dengan air mata.
"bolehkan aku berada disini selamanya?"kata-kata itu terus membayangi pikiranku..
Angin menambah heningnya suasana malam itu..
Termenung aku menatap langit yg membisu.. Sesekali aku mengusap air mata yang membasahi wajah..
"andin, aku tau kau sekarang berada disampingku,
aku dapat merasakan keberadaanmu..
Andin, betapa jahatnya kau meninggalkanku..
Kita belum sempat berpijak ke bandung! Kau benar-benar mendahuluiku! " suaraku yang sedikit berterik membuat serak .. Tak peduli apapun yang ada disekitar.. Aku hanya ingin menyepi ditempat favorit andin..
* * * *
dedaunan sore hari menambah sunyi.. Di atas nisan "andini julia" aku termangu..
Ku tabur bunga dan air untuknya..
Aku merunduk .. Menepak tanah..
"andin, aku disini. Maaf sahabat kecil aku barulah hadir dsini..
Aku bersyukur penderitaan mu didunia telah berakhir. Mimpi mu ingin bertemu ayah pun mungkin telah terwujud..
Andin, baik-baiklah kau disana, aku dsini selalu mendoakanmu " lirih suaraku yg serak berakhir.. Aku segera pergi dari pemakaman..
Dimalam yang sunyi, pkiran ku sedikit gelisah.. Aku bermimpi bertemu andin.
Ia sekarang memiliki kawan baru..
Ia lebih tertutup , cntik dengan jilbabnya.
Subhanalloh ia menunjukkan itu untuk memberitau ku, jika ia sekarang tengah hidup bahagia..
Quran ditangannya ia genggam erat-erat..
Subhanalloh pemandangan yang indah..
Dan aku pun terbangun dari mimpi dan tersenyum mengingat mimpi itu..
3 taun berlalu dengan cepat.. Disaat, aku berambisi ingin berada d kota metropolitan, justru takdir berbicara lain.. Kini aku berpijak di bandung.. Kota impian andin.. Subhanalloh.. Inilah rencana alloh untukku..
"andin , lihatlah aku disini.. Kini aku berpijak di bandung. Aku menimba ilmu di kota impianmu.. Benar apa katamu.. Kota ini sungguh indah.. Aku benar2 tak ingin beranjak dari pijakan ku ini.. Andien, semoga kau pun rasakan pijakan ku ini.. Tenanglah kau disana.. Hutang kita telah terbayar.. Terima kasih ya ALLOH" nadaku terdengar bahagia.. Dan kutinggalkan pijakanku menuju kampus tempat ku menimba ilmu..
End
penggalan novel q "the first flower"
Semua itu tak ku tau… awal yang begitu sangat tak ku mengerti…. Aku yang ketika itu duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5 dan juga dalam kelas yang sama dengannya .berawal dari pertengkaran yang begitu tak aku mengerti penyebab amarahku. Tiba-tiba saja saat guru memindahkan bangku ke bangku barisan ke 3 dari sebelah kiri dan tepat di bangku urutan ke 4 dari urutan pertama itu menyebabkan semua amarahku meledak-ledak. Tiba- tiba saja ku lemparkan sapu tangan yang Pak guru kasih untuk membersihkan kaca besok ke muka teman sebangku ku bernama Pratama.
“ apa-apaan maksud kamu??” ujar lelaki berparas mirip perempuan itu , karena bulu matanya yang mirip perempuan.
“ aku males di pindahin ma guru duduk deket-deket kamu. Lebih baik besok kamu saja yang bawa lap kaca ini. Aku males !!!!!!!!” ucap ku sembari menatap dia dengan tatapan sinis.
Namun Karena dia merasa terhina dengan ucapanku tadi, dia balik melemparkan lap kaca itu ke muka ku. Tidak kami sadari kami malah saling melempar lap kaca itu. Ketika itu pula guru kami memperhatikan kami dengan penuh marah dan melemparkan Spidol kea rah kami dan tepat di kepalaku.
“ kalian … tidak malu dilihat teman-teman kalian ?? malah bertengkar di kelas !” ujar guruku sembari matanya yg indah berubah amarah itu menatap kami tajam.
Karena guru kami yang menggerutu akan pertengkaran kami. Maka kami sudahi pertengkaran kami itu.
Semakin lama aku duduk dengannya aku memiliki banyak perubahan. Aku yang selalu cuek ketika berhadapan dengan “cowok” kini berbalik . aku sangat akrab dengannya. Namun sikap sinisnya padaku masih tersimpan. Terkadang kita sering bercanda bersama dan saling bertengkar pula.
Suatu hari ketika guru menyuruh murid-murid mengumpulkan tugas ilmiah, kami sempat bertengkar karena kami sama-sama tidak mau mengerjakan semua itu bersama. Dulu aku fikir mengerjakan hanya berdua itu sama saja dengan kencan. Maka dari itu aku langsung menolak tugas itu. Namun kami sepakat membawa tugas di bagi dua dan masing-masing membawanya besok.
Hari gelap mendung. Tak ada gairah semangat ketika ku sambut pagi. Namun ku coba memaksakan diri untuk sekolah, karena harus dikumpulkannya tugas ilmiah itu. Ketika aku tiba disekolah, di balik pintu Pratama sudah menungguku.
“ kamu mau buat aku jantungan ya gara-gara tugas ilmiah belum lengkap?? Jam berapa ini??? Sudah hampir bel masuk tau !” ujar Pratama sambil menunjuk-nunjuk jam kesayangannya berwarna abu.
“ maaf, tadinya aku males kesekolah tau. Cuacanya buruk.”ucapku sembari masuk keruangan kelas yang dari dulu hingga sekarang tak ada berubahnya.
Saat pelajaran dimulai, guru itu membahas tentang rencananya melakukan pemberlakuan peraturan baru. Semua siswanya harus mengadakan survey cara berdagang itu seperti apa dengan cara berdagang keliling ke tiap kelas bergilir setiap satu hari satu bangku. Mendengar itu kami langsung terkejut, dan mecoba protes dengan keputusan guru. Kami menolak mentah-mentah semua peraturan baru itu. Namun, ketika kami lihat di sekeliling kami , tak ada satu orang pun yang protes terkecuali kami berdua. Akhirnya kami mengalah. Seketika mulutku ini ingin sekali bertanya. Dengan penuh keberanian aku mencoba berbicara. “ Pak, jualannya berdua ? Apa belanjanya juga harus berdua?” tiba-tiba saja pertanyaan polos dan sangat-sangat gak penting itu terlontar. Pak guru tersenyum. “Ya, jualannya berdua, kalau mau belanja berdua juga tak apa, sekalian kalian kencan.”ujar pak guru berkumis tebal itu sembari tertawa kecil. Aku dan Pratama tersentak mendengar itu. Saling bertatap-tatapan terkejut sejenak, kemudian segera membalikan punggung. Kami benar-benar tidak ingin mimpi buruk itu terjadi. Tapi benar-benar tidak ada upaya lagi selain melaksanakan peraturan yang ada.
“Hey, jangan diam saja! Ayo jualan yang benar! Jika hari ini kita kalah penghasilannya itu salah KAMU…. Salah KAMU… Salah KAAAMUUUU”kata-kata itu membangunkanku dari mimpi buruk semalam. Betapa sialnya semalam. Di dunia sudah menderita, di mimpi pun harus menderita karena bertemu Pratama yang semena-mena menganiayaku dengan pernyataannya bahwa aku yang harus lelah menjual dan dia yang hanya pegang uang.
H a ri ini adalah hari pertama jualan di sekolah. Bagiku ini adalah hari terburuk didunia. Hari ini hari pertama aku dan pratama jualan, karena menurut urutan bangku , kami mendapat giliran pertama. Belanjaan sudah aku beli kemarin bersama bapakku. Ketika menghampiri kelas Pratama sudah berdiri tegak mirip tiang di depan kelas. Matanya yang sayu melihat sekelilingnya berubah tajam ketika aku menghampiri kelas dan hendak masuk. “Heh, kamu bawa kan belanjaannya? Awas saja kalau tidak !” ucapannya itu semakin mengingatkan ku dengan mimpi buruk semalam. “ Ini aku bawa .. Bawel !” dengan kesal aku masuk kelas. Pratama terus saja menatapku. Mungkin Pratama merasa bersalah telah memarahiku tadi. Aku sama sekali tak mempedulikannya. Aku masih mempertahankan wajah keruhku.
Jantungku berubah kini berdetak 180 kali lebih cepat dari normal, ketika melihat buku berwarna coklat bertuliskan “buku PR Matematika” tidak ku dapati di tas Merah mudaku. Sepertinya pak guru dapat membaca situasiku. Untuk ketiga kalinya dia memanggil namaku. Pratama yang heran melihat tingkahku , segera sigap mengeluarkan buku PR matematikanya “ Cepat kumpulkan, aku tak apa-apa.” Ucapnya dengan senyum yang sangat ikhlas. Melihatnya sangat begitu baik dan berbeda 720 drajat dari biasanya. “ Bagaimana dengan PR kamu? Kamuu kan nanti ……..” ucapan ku terpotong ketika dia mengganti namanya yang tertera pada bukunya yang bergambar tengkorak berwarna hijau itu. “Aku gak apa-apa.” Singkat dia menjawab. Karena terlanjur dia telah mengganti namanya, aku pun menuruti apa katanya. Buku PR itu aku kumpulkan. Setelah buku PR Pratama dikumpulkan atas namaku, Pratama dipanggil pak guru untuk mengumpulkan buku PR. Tanpa pikir panjang dia menghampiri pak guru dan dengan tenangnya dia menjawab “ Maaf pak , buku PR tertinggal dirumah.” Tersentak aku mendengar ocehannya itu. Jelas saja guru akan marah, jika ada muridnya yang tidak mengumpulkan tugas dengan alasan “tertinggal”. Pratama dihukum. Dia harus berdiri sambil memegangi kedua telinganya dan satu kakinya diangkat hingga bel istirahat berbunyi. Miris sekali melihatnya melaksanakan hukuman yang seharusnya aku lakukan. Demiku dia rela berdiri menanggung malu di depan semua teman-temannya. Hari ini aku sungguh tersihir dengan kebaikannya. Sesuatu yang tak pernah ku lihat dari dirinya. Perasaanku kini berbaur. Entah apa yang sedang ku pikirkan selama pelajaran berlangsung.
Je me Présent
Je m'appele Yesshinta Septiyani Fajar ...
Je viens de Tasikmalaya
Je viens de Tasikmalaya
je suis célibataire
je suis étudiante de l'upi
j'habite a Bandung
j'aime ecouter la musique classique et jouer du piano
Langganan:
Komentar (Atom)









