Semilir angin menelisik perlahan helaian rambutku ..
Terhampar luas langit penuh awan itu tak berubah..
5 tahun berlalu cepat..
Masih teringat sosoknya berdiri dsamping q..
Bercerita keluh kesahnya saat itu..
"aku ingin mati saja" sontak aq mendengar ocehan seseorang dsampingku mengernyitkn dahi dan menoleh kearahku .. Sepertinya ia ingin aku menyetujui pendapatnya..
"hush! Jangan berbicara sembarangan! " nadaku agak sedikit membentak..
Wanita disampingku tak berkata lagi.. Sepertinya dy menikmati angin sore di teras kamarku..
Wajah nya seketika sumringah..
"aku ingin disini selamanya .. Boleh?"
pertanyaannya sedikit menggelitikku..
Aku tau situasi hatinya sedang kacau saat itu..
"boleh.. Kamu boleh pakai teras kamarku sepuasnya " nadaku terdengar kegirangan..
Wanita dsampingku tak bnyak bicara, ia terlalu menikmati udara sore itu.. Wajahnya sesekali tersenyum.. Dalam benakku sedikit bingung, tempo hari ada berita ia sakit tifus dan dia sempat dirawat.. Kini ia datang kerumah tiba-tiba hanya ingin silaturahmi saja.. Wanita itu datang sendiri kerumahku tanpa persetujuan neneknya..
"kamu enak.. Setiap hari bisa menikmati udara sore setenang ini di teras rumahmu" kata-katanya mulai melemah..
Aku tak membalas ocehannya.. Hanya tersenyum menatapnya dan sesekali menatap langit..
"aku rindu ibu dan ayahku.. Aku rindu ayahku yang sudah meninggal.. Aku rindu ibuku yang ada d bandung.. Aku ingin menyusul ayah.. " nada suaranya semakin melemah.. Air matanya mencoba membasahi wajahnya.. Melihatnya aku menjadi larut dalam kesedihan..
Dia mulai bercerita tentang bandung, kota yang paling ia ingin pijaki..
Baginya bandung adalah kota impian.. Selain bisa bertemu ibunya, bandung adalah kota terindah baginya.. Tak henti ia menceritakan bandung, tempat dimana ibunya berada.. Lain halnya dengan ku yang sangat menyukai kota metropolitan.. Sedikit heran aku mendengar wanita dsampingku bercerita tentang bandung, semakin menarik penasaranku..
"sudah jangan menangis, nanti kita kebandung bareng2"
Hening suasana sore itu.. Wanita itu rasanya sangat betah di teras kamarku.. Sesekali wanita itu memegangi kepalanya..
"kamu baik-baik saja?"tanyaku penuh khawatir..
"sedikit pusing saja " jawabnya pelan..
Wanita itu kembali menatap langit dan terdiam sejenak..
Diapun menceritakan masalah yang saat itu ia alami..
Tentang neneknya yg berlaku tidak adil..
Tentang saudaranya yang mencemooh..
Mendengarnya batinku pun ikut sakit
sesekali ia tersenyum..
"boleh aku menyendiri dsni? 30 menit saja " ucapnya dgn nada rendah
aku hanya mengangguk , dan tersenyum.. Ku tinggalkan ia sendiri di teras kamarku.. Sempat merasa bingung dengan sikap anehnya .. Namun tak trlalu panjang ku tela'ah..
* * * *
jam menunjukkan pukul 17.00 tepat 30 menit waktu berlalu dari percakapan ku dengan wanita itu..
Wanita itu turun dari kamarku menuruni tangga. Terlihat lebih ceria dari pertama ia datang..
"tante, aku sudah mau pulang. Sudah sore. Maaf kesini merepotkan?" nada wanita itu terdengar ceria..
"apa ,andin? Ngerepotin juga tidak, tante belikan bakso ya? Itu kan makanan favoritmu "jelas ibuku
"tante tau saja aku suka bakso, tapi tidak terima kasih , aku sedang puasa"jawaban itu sedikit mengagetkanku.. Dia sangat rajin melaksanakan puasa.. Aku takjub padanya
"aku pulang dulu tante "lirih suaranya terdengar lagi semakin ceria
wanita itu menepuk pundakku "jaga dirimu baik-baik " kata2nya terdengar mengagetkan.. "seperti mau pergi jauh saja "batinku berucap..
Aku pun mengangguk dan tersenyum
"iya, pasti. Kamu juga ya! Nanti kita kebandung bersama . Kerumah ibumu . " nadaku sedikit menggoda..
"kayaknya gak mungkin"jawabnya singkat
"kenapa?"
"pasti belum sempat."nadanya itu tak terdengar ceria lagi. Jelas aku bingung . Namun sepertinya dia tak ingin aku bertanya lagi . Dia segera mengenakan sandalnya dan melangkah menghilang dari pandanganku.. Sejenak aku terdiam.. Sosoknya terlihat aneh hari ini.. "semoga dia baik-baik saja" bisikku dalam batin..
Seminggu berlalu cepat.. Esok adalah ujian kenaikan kelas.
Aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP adalah siswi yang terbilang malas belajar. .
Namun untuk saat itu terpaksa aku berpura-pura belajar d depan orang tua ku.. Ketika sedang asyik membaca buku ,handphone ku tiba-tiba berdering "ah ternyata sms dari lestari sepupuku" sesegera mungkin aku membaca pesan itu
membaca isi pesan itu pundakku terasa berat, tanganku terasa lemah, pandanganku terasa semakin jauh..
Aku merunduk . Menahan tetesan air mata ..
"andiny meninggal dunia"
kata-kata itu menusuk batinku.. Belum sempat ia merasakan menjadi siswa yang lulus SMP, siswa SMA, mahasiswa, dan yang paling penting ia belum sempat berpijak dikota impiannya "bandung" . Lebam bahuku rasanya mendengar berita itu .. Sungguh aku merasa tak berdaya. .
* * * *
aku telah rapi mengganti pakaianku yang hendak datang ke pemakaman.
Jenazah andin tiba pkul 9 malam.
Namun tiba-tiba ibuku menghentikan langkahku. Aku tak diberi izin untuk hadir di pemakamannya.
Betapa kecewa nya aku mendengar larangan ibu..
Padahal aku bisa dengan leluasa memberi pukulan keras untuk orang-orang yang telah menyakiti andin .
Aku dengan leluasa menendang wajah mereka dari hadapanku.. Setelah beberapa saat berpikir, ibu memberi keputusan yang tepat.
Betapa menjijikannya jika aku melihat mereka orang-orang yang tak punya hati menangis air mata buaya .. Sungguh aku tak kan tahan ..
* * * *
hening malam itu.. Seisi rumah nampak sepi..
Kedua orang tuaku pergi kepemakaman.
Aku sendiri menerawang lamunanku..
Aku beranjak ke teras kamarku.. Setiba disana, bayang2 seminggu yang lalu masih terasa .. Kini suasana yang berbeda.. Malam dengan penuh bintang .
Tiga detik saja berdiri memandangi langit ,mampu merapuhkn hati dan membasahi wajahku dengan air mata.
"bolehkan aku berada disini selamanya?"kata-kata itu terus membayangi pikiranku..
Angin menambah heningnya suasana malam itu..
Termenung aku menatap langit yg membisu.. Sesekali aku mengusap air mata yang membasahi wajah..
"andin, aku tau kau sekarang berada disampingku,
aku dapat merasakan keberadaanmu..
Andin, betapa jahatnya kau meninggalkanku..
Kita belum sempat berpijak ke bandung! Kau benar-benar mendahuluiku! " suaraku yang sedikit berterik membuat serak .. Tak peduli apapun yang ada disekitar.. Aku hanya ingin menyepi ditempat favorit andin..
* * * *
dedaunan sore hari menambah sunyi.. Di atas nisan "andini julia" aku termangu..
Ku tabur bunga dan air untuknya..
Aku merunduk .. Menepak tanah..
"andin, aku disini. Maaf sahabat kecil aku barulah hadir dsini..
Aku bersyukur penderitaan mu didunia telah berakhir. Mimpi mu ingin bertemu ayah pun mungkin telah terwujud..
Andin, baik-baiklah kau disana, aku dsini selalu mendoakanmu " lirih suaraku yg serak berakhir.. Aku segera pergi dari pemakaman..
Dimalam yang sunyi, pkiran ku sedikit gelisah.. Aku bermimpi bertemu andin.
Ia sekarang memiliki kawan baru..
Ia lebih tertutup , cntik dengan jilbabnya.
Subhanalloh ia menunjukkan itu untuk memberitau ku, jika ia sekarang tengah hidup bahagia..
Quran ditangannya ia genggam erat-erat..
Subhanalloh pemandangan yang indah..
Dan aku pun terbangun dari mimpi dan tersenyum mengingat mimpi itu..
3 taun berlalu dengan cepat.. Disaat, aku berambisi ingin berada d kota metropolitan, justru takdir berbicara lain.. Kini aku berpijak di bandung.. Kota impian andin.. Subhanalloh.. Inilah rencana alloh untukku..
"andin , lihatlah aku disini.. Kini aku berpijak di bandung. Aku menimba ilmu di kota impianmu.. Benar apa katamu.. Kota ini sungguh indah.. Aku benar2 tak ingin beranjak dari pijakan ku ini.. Andien, semoga kau pun rasakan pijakan ku ini.. Tenanglah kau disana.. Hutang kita telah terbayar.. Terima kasih ya ALLOH" nadaku terdengar bahagia.. Dan kutinggalkan pijakanku menuju kampus tempat ku menimba ilmu..
End

Tidak ada komentar:
Posting Komentar