Jumat, 30 September 2011

penggalan novel q "the first flower"


Semua itu tak ku tau… awal yang begitu sangat tak ku mengerti…. Aku yang ketika itu duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5 dan juga  dalam kelas yang sama dengannya .berawal dari pertengkaran yang begitu tak aku mengerti penyebab amarahku. Tiba-tiba saja saat guru memindahkan bangku ke bangku barisan ke 3 dari sebelah kiri dan tepat di bangku urutan ke 4 dari urutan pertama itu menyebabkan semua amarahku meledak-ledak. Tiba- tiba saja ku lemparkan sapu tangan yang Pak guru kasih untuk membersihkan kaca besok ke muka teman sebangku ku bernama Pratama.

“ apa-apaan maksud kamu??” ujar lelaki berparas mirip perempuan itu , karena bulu matanya yang mirip perempuan.
“ aku males di pindahin ma guru duduk deket-deket kamu. Lebih baik besok kamu saja yang bawa lap kaca ini. Aku males !!!!!!!!” ucap ku sembari menatap dia dengan tatapan sinis.

Namun Karena dia merasa terhina dengan ucapanku tadi, dia balik melemparkan lap kaca itu ke muka ku. Tidak kami sadari kami malah saling melempar lap kaca itu. Ketika itu pula guru kami memperhatikan kami dengan penuh marah dan melemparkan Spidol kea rah kami dan tepat di kepalaku.
“ kalian … tidak malu dilihat teman-teman kalian ?? malah bertengkar di kelas !” ujar guruku sembari matanya yg indah berubah amarah itu menatap kami tajam.

Karena guru kami yang menggerutu akan pertengkaran kami. Maka kami sudahi pertengkaran kami itu.

Semakin lama aku duduk dengannya aku memiliki banyak perubahan. Aku yang selalu cuek ketika berhadapan dengan “cowok” kini berbalik . aku sangat akrab dengannya. Namun sikap sinisnya padaku masih tersimpan. Terkadang kita sering bercanda bersama dan saling bertengkar pula.
Suatu hari ketika guru menyuruh murid-murid mengumpulkan tugas ilmiah, kami sempat bertengkar karena kami sama-sama tidak mau mengerjakan semua itu bersama. Dulu aku fikir mengerjakan hanya berdua itu sama saja dengan kencan. Maka dari itu aku langsung menolak tugas itu. Namun kami sepakat membawa tugas di bagi dua dan masing-masing membawanya besok.
Hari gelap mendung. Tak ada gairah semangat ketika ku sambut pagi. Namun ku coba memaksakan diri untuk sekolah, karena harus dikumpulkannya tugas ilmiah itu. Ketika aku tiba disekolah, di balik pintu Pratama sudah menungguku.

“ kamu mau buat aku jantungan ya gara-gara tugas ilmiah belum lengkap?? Jam berapa ini??? Sudah hampir bel masuk tau !” ujar Pratama sambil menunjuk-nunjuk jam kesayangannya berwarna abu.

“ maaf, tadinya aku males kesekolah tau. Cuacanya buruk.”ucapku sembari masuk keruangan kelas yang dari dulu hingga sekarang tak ada berubahnya.

Saat pelajaran dimulai, guru itu membahas tentang rencananya melakukan pemberlakuan peraturan baru. Semua siswanya harus mengadakan survey cara berdagang itu seperti apa dengan cara berdagang keliling ke tiap kelas bergilir setiap satu hari satu bangku. Mendengar itu kami langsung terkejut, dan mecoba protes dengan keputusan guru. Kami menolak mentah-mentah semua peraturan baru itu. Namun, ketika kami lihat di sekeliling kami , tak ada satu orang pun yang protes terkecuali kami berdua. Akhirnya kami mengalah. Seketika mulutku ini ingin sekali bertanya. Dengan penuh keberanian aku mencoba berbicara. “ Pak, jualannya berdua ? Apa belanjanya juga harus berdua?” tiba-tiba saja pertanyaan polos dan sangat-sangat gak penting itu terlontar. Pak guru tersenyum. “Ya, jualannya berdua, kalau mau belanja berdua juga tak apa, sekalian kalian kencan.”ujar pak guru berkumis tebal itu sembari tertawa kecil. Aku dan Pratama tersentak mendengar itu. Saling bertatap-tatapan terkejut sejenak, kemudian segera membalikan punggung. Kami benar-benar tidak ingin mimpi buruk itu terjadi. Tapi benar-benar tidak ada upaya lagi selain melaksanakan peraturan yang ada.

“Hey, jangan diam saja! Ayo jualan yang benar! Jika hari ini kita kalah penghasilannya itu salah  KAMU…. Salah KAMU… Salah KAAAMUUUU”kata-kata itu membangunkanku dari mimpi buruk semalam. Betapa sialnya semalam. Di dunia sudah menderita, di mimpi pun harus menderita karena bertemu Pratama yang semena-mena menganiayaku dengan pernyataannya bahwa aku yang harus lelah menjual dan dia yang hanya pegang uang.
H a ri ini adalah hari pertama jualan di sekolah. Bagiku ini adalah hari terburuk didunia. Hari ini hari pertama aku dan pratama jualan, karena menurut urutan bangku , kami mendapat giliran pertama. Belanjaan sudah aku beli kemarin bersama bapakku.  Ketika menghampiri kelas Pratama sudah berdiri tegak mirip tiang di depan kelas. Matanya yang sayu melihat sekelilingnya berubah tajam ketika aku menghampiri kelas dan hendak masuk. “Heh, kamu bawa kan belanjaannya? Awas saja kalau tidak !” ucapannya itu semakin mengingatkan ku dengan mimpi buruk semalam. “ Ini aku bawa .. Bawel !” dengan kesal aku masuk kelas. Pratama terus saja menatapku. Mungkin Pratama merasa bersalah telah memarahiku tadi. Aku sama sekali tak mempedulikannya. Aku masih mempertahankan wajah keruhku.
Jantungku berubah kini berdetak 180 kali lebih cepat dari normal, ketika melihat buku berwarna coklat bertuliskan “buku PR Matematika” tidak ku dapati di tas Merah mudaku. Sepertinya pak guru dapat membaca situasiku. Untuk ketiga kalinya dia memanggil namaku. Pratama yang heran melihat tingkahku , segera sigap mengeluarkan buku PR matematikanya “ Cepat kumpulkan, aku tak apa-apa.” Ucapnya dengan senyum yang sangat ikhlas. Melihatnya sangat begitu baik dan berbeda 720 drajat dari biasanya. “ Bagaimana dengan PR kamu? Kamuu kan nanti ……..” ucapan ku terpotong ketika dia mengganti namanya yang tertera pada bukunya yang bergambar tengkorak berwarna hijau itu. “Aku gak apa-apa.” Singkat dia menjawab. Karena terlanjur dia telah mengganti namanya, aku pun menuruti apa katanya. Buku PR itu aku kumpulkan. Setelah buku PR Pratama dikumpulkan atas namaku, Pratama dipanggil pak guru untuk mengumpulkan buku PR. Tanpa pikir panjang dia menghampiri pak guru dan dengan tenangnya dia menjawab “ Maaf pak , buku PR tertinggal dirumah.” Tersentak aku mendengar ocehannya itu. Jelas saja guru akan marah, jika ada muridnya yang tidak mengumpulkan tugas dengan alasan “tertinggal”. Pratama dihukum. Dia harus berdiri sambil memegangi kedua telinganya dan satu kakinya diangkat hingga bel istirahat berbunyi. Miris sekali melihatnya melaksanakan hukuman yang seharusnya aku lakukan. Demiku dia rela berdiri menanggung malu di depan semua teman-temannya. Hari ini aku sungguh tersihir dengan kebaikannya. Sesuatu yang tak pernah ku lihat dari dirinya. Perasaanku kini berbaur. Entah apa yang sedang ku pikirkan selama pelajaran berlangsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar